Asean Diserbu Mutasi Corona Yang Mudah Menyebar Namun Tak Mematikan

Ia mengatakan hal itu saat memberi kuliah mahasiswa Fakultas Farmasi UGM, Program Studi Profesi Apoteker bertema Tentang Corona Virus dan Penangannya. Menurut Ika virus corona pernah menjadi wabah dunia dengan tiga jenis yang dikenal selama ini, yaitu SARS-Cov, MERS-Cov dan COVID-19. Dr. Ika Trisnawati, M.Sc., Sp.PD-KP, Ketua Tim Viral Airborne RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta, mengimbau masyarakat untuk tidak panik menghadapi virus corona atau Covid-19, sebab virus ini sesungguhnya tidak mematikan. Taiwan misalnya, negara ini dipuji dunia internasional atas respons cepat pemerintah mereka saat COVID-19 pertama kali muncul. Saat itu pemerintah Taiwan langsung memperketat pemeriksaan terhadap warga yang datang dari Wuhan.

Sekitar 1 dari setiap 6 orang mungkin akan menderita sakit yang parah, seperti disertai pneumonia atau kesulitan bernafas, yang biasanya muncul secara bertahap. Walaupun angka kematian penyakit ini masih jarang, namun bagi orang yang berusia lanjut, dan orang-orang dengan kondisi medis yang sudah ada sebelumnya , mereka biasanya lebih rentan untuk gejala yang lebih parah. Orang yang mengalami demam, batuk, dan sulit bernapas harus segera mendapatkan pertolongan medis. Karantina mandiri berarti memisahkan diri dari orang lain karena Anda telah terpajan dengan seseorang yang terinfeksi COVID-19 meskipun Anda tidak memiliki gejala. Karena orang yang terinfeksi COVID-19 dapat menularkan secara cepat ke orang lain, segera mengarantina diri dapat mencegah orang lain tertular infeksi. Banyak orang yang teridentifikasi Covid-19 hanya mengalami gejala ringan seperti batuk ringan, atau tidak mengeluh sakit, yang mungkin terjadi pada tahap awal penyakit.

Apakah covid mematikan?

Akibatnya, tubuh akan lebih sulit bertahan untuk melawan virus Corona. Saat virus Corona mulai menguasai tubuh, sel-sel tubuh akan mulai melepaskan interferon, yaitu sinyal peringatan ke seluruh tubuh dan sistem kekebalan. Jixie mencari berita yang dekat dengan preferensi dan pilihan Anda. Kumpulan berita tersebut disajikan sebagai berita pilihan yang lebih sesuai dengan minat Anda. Guna mengetahui kebenaran informasi tersebut, Tim Cek Fakta Kompas.com menghubungi peneliti pandemi global sekaligus pakar epidemiologi dari Griffith University, Dicky Budiman. Namun hal itu dibantah dengan tegas oleh ahli pandemi juga data yang ada dan dapat diakses oleh publik setiap waktunya.

Orang-orang lanjut usia dan orang-orang dengan kondisi medis penyerta seperti tekanan darah tinggi, gangguan jantung dan paru-paru, diabetes, atau kanker memiliki kemungkinan lebih besar mengalami sakit lebih serius. Namun, siapa pun dapat terinfeksi COVID-19 Situs Bola Online dan mengalami sakit yang serius. Orang dari segala usia yang mengalami demam dan/atau batuk disertai dengan kesulitan bernapas/sesak napas, nyeri/tekanan dada, atau kehilangan kemampuan berbicara atau bergerak harus segera mencari pertolongan medis.

Orang yang terinfeksi COVID-19 dan influenza akan mengalami gejala infeksi saluran pernafasan yang sama, seperti demam, batuk dan pilek. Walaupun gejalanya sama, tapi penyebab virusnya berbeda-beda, sehingga kita sulit mengidentifikasi masing-masing penyakit tersebut. Pemeriksaan medis yang akurat disertai rujukan pemeriksaan laboratorium sangat diperlukan untuk mengonfirmasi apakah seseorang terinfeksi COVID-19. WHO secara resmi mendeklarasikan virus corona (COVID-19) sebagai pandemi pada tanggal 9 Maret 2020. Istilah pandemi terkesan menakutkan tapi sebenarnya itu tidak ada kaitannya dengan keganasan penyakit tapi lebih pada penyebarannya yang meluas.

Karantina berarti membatasi kegiatan atau memisahkan orang yang tidak sakit tetapi mungkin terpajan COVID-19. Tujuannya adalah untuk mencegah penyebaran penyakit pada saat orang tersebut baru mulai mengalami gejala. Jika Anda tidak memiliki gejala, tetapi telah terpajan orang yang terinfeksi, lakukan karantina mandiri selama 14 hari. Meskipun Anda tidak menyadari telah terpajan COVID-19 dan mengalami gejala, lakukan isolasi mandiri dan pantau diri Anda.

Masker medis direkomendasikan terutama dalam perawatan kesehatan, tetapi dapat dipertimbangkan dalam keadaan lain . Masker medis harus dikombinasikan dengan tindakan pencegahan dan pengendalian infeksi utama lain seperti kebersihan tangan dan menjaga jarak fisik. • Jalankan etika batuk dan bersin dengan cara menutup mulut dan hidung dengan siku terlipat atau tisu. Jika menggunakan tisu, segera buang setelah digunakan dan cuci tangan. • Pastikan Anda dan orang-orang di sekitar Anda menjalankan etika batuk dan bersin dengan cara menutup mulut dan hidung dengan siku terlipat atau tisu saat batuk atau bersin, segera buang tisu bekas tersebut. Dengan mengikuti etika batuk dan bersin, Anda melindungi orang-orang di sekitar dari virus-virus seperti batuk pilek, flu, dan COVID-19.

Tetaplah tinggal di rumah dan lakukan isolasi mandiri meskipun hanya memiliki gejala ringan seperti batuk, sakit kepala, dan demam ringan sampai Anda sembuh. Batuk, bersin, atau berbicara dapat menghasilkan percikan yang dapat menjadi sumber penularan. Percikan ini dapat menempel di wajah orang lain di dekatnya dan lingkungan sekitar. Jika orang yang terinfeksi batuk, bersin, atau berbicara saat mengenakan masker medis, penggunaan masker dapat membantu melindungi orang-orang terdekat dari infeksi. Jika orang sakit perlu pergi ke fasilitas kesehatan, mereka harus memakai masker medis.

“Tidak ada cara diplomatik untuk mengatakannya. Sekelompok kecil negara yang membuat dan membeli sebagian besar vaksin dunia mengendalikan nasib seluruh dunia,” jelasnya. Ia juga menyoroti distribusi vaksin yang tidak adil, di mana lebih dari 75 persen vaksin di seluruh dunia hanya didistribusikan di 10 negara. Sebanyak 194 perwakilan menteri kesehatan dari negara anggota Organisasi Kesehatan Dunia berkumpul pada Senin (24/5), menghadiri Majelis Kesehatan Dunia untuk membahas situasi pandemi Covid-19. “Tidak ada cara diplomatik untuk mengatakannya, sekelompok kecil negara yang membuat dan membeli sebagian besar vaksin dunia mengendalikan nasib seluruh dunia,” jelas Ghebreyesus. “Dunia tetap dalam situasi yang sangat berbahaya, tidak peduli seberapa sukses program vaksinasi yang mereka lakukan,” kata Ghebreyesus.